Film “Innocence of Muslims” yang heboh belakangan
ini, sebenarnya fenomena yang biasa saja untuk ukuran jaman sekarang.
Film amatiran yang tidak terlalu bagus, dan seharusnya tidak perlu
membuat heboh. Terlebih film tersebut muncul di barat yang pada dasarnya
menjunjung tinggi kebebasan berekspresi.
Beberapa waktu lalu, sempat heboh novel “The Da Vinci Code”
karangan Dan Brown, yang dipandang menghina agama Katolik. Novel
tersebut menggambarkan Yesus yang menikah dengan Maria Magdalena, dan
akhirnya punya anak. Ada kecaman keras dari berbagai institusi Katolik,
tapi tidak ada yang sampai mengeluarkan fatwa “bunuh” terhadap penulis
novel tersebut. Kehebohan novel tersebut akhirnya pudar begitu saja.
Bandingkan dengan kasus novel “The Satanic Verses”-nya Salman Rushdie yang sampai memunculkan fatwa mati terhadap penulisnya.
Dalam masyarakat barat, sudah terlalu sering Yesus, Paus, atau ikon suci lainnya dijadikan parodi. Jika anda browse di Youtube dengan kata kunci “jesus parody”, mudah
sekali menemukan berbagai klip video yang bertema olok-olok terhadap
Yesus. Apakah ada kegusaran serius di kalangan Kristen? Tidak ada.
Berbeda dengan Kristen, umat Muslim memiliki sikap yang oversensitif
terhadap persoalan ini. Di film “2012” garapan Roland Emmerich, sang
sutradara dengan leluasa menggambarkan kehancuran Basilica St. Petrus
akibat gempa bumi. Tapi berpikir seribu kali untuk menggambarkan
kehancuran bangunan simbol-simbol Islam. Kemudian sebelumnya, sebuah
kartun Nabi Muhammad yang pernah ditayangkan di Jylland Posten telah memicu amarah Muslim sedunia.
Oke, sebagian masyarakat barat mampu memaklumi kegusaran umat Muslim.
Tapi sebagian yang lain, malah menjadikan karakter sensitif umat Muslim
sebagai bahan olok-olok yang membuat mereka makin giat “menggoda”. Aksi
“Draw Muhammad’s Day” yang bertujuan memprovokasi umat Muslim pun sempat populer melalui situs jejaring sosial.
Di barat, kekristenan sudah biasa dibedah materinya secara kritis dan
dekonstruktif. Alkitab dipandang sebagai semata objek studi yang dikaji
dengan jarak. Pro-kontra terhadap pandangan teologi semata-mata menjadi
wacana yang dibahas dalam forum diskusi. Tidak ada himbauan kekerasan,
blokir internet, bunuh, atau segenap protes berlebihan lainnya. Barat
modern sudah relatif maju, tidak seperti kondisi enam ratus tahun yang
lalu, ketika institusi gereja mendominasi Eropa.
Dalam masyarakat barat, semua agama bebas dikaji baik secara
kritis-dekonstruktif maupun apresiatif. Tidak setuju, silakan lawan
pemikiran dengan pemikiran. “Mental ilmiah” seperti ini belum ada di
dunia Islam. Umat Muslim hanya terima ketika Islam diapresiasi oleh
orang barat. Jika Islam atau Alquran dikritisi, mereka marah. Tapi
anehnya, jika kekristenan atau Bible dikritisi, mereka senang. Contoh
Maurice Bucaille yang kritis terhadap Bible, membuat umat Muslim di
manapun sumringah. Nama dan bukunya kerap kali semangat
disebut-sebut. Tapi begitu ada tokoh barat yang kritis terhadap Islam,
atau menulis buku yang memaparkan sejarah Islam di luar pemahaman arus
utama, sebagai contoh nama Christoph Luxenberg, umat Muslim marah.
Dunia Islam tampaknya belum memasuki era keterbukaan pemikiran
semacam itu. Di dunia Islam, yang bisa dan boleh dikritisi hanya agama
lain, terutama Kristen. Dan yang wajib diapresiasi hanya agama Islam.
Kritik terhadap agama Islam adalah blasphemy. Sedangkan kritik terhadap agama lain, terutama Kristen, adalah dakwah kebenaran.
Jika kita jalan-jalan ke toko buku Gunung Agung, rasanya cukup banyak
buku-buku apologetika Islam yang mengkritisi teologi Kristen. Apakah
ada kalangan Kristen yang gusar lantas berdemo? Sejauh ini tidak ada.
Nah, bagaimana kalau itu terjadi sebaliknya? Misalkan ada buku yang
mengkritisi Islam secara frontal dipajang di Gramedia? Wah, pasti sudah rame demonya!
Apakah sikap umat Kristen yang cenderung tidak ambil pusing ketika
ikon agamanya dijadikan parodi atau dikritik, berarti tidak menghargai
keagungan dan wibawa agamanya? Tidak. Setiap umat beragama pastilah
menjunjung tinggi tokoh-tokoh sucinya, menganggap agamanya benar, agung
dan wibawa. Masalahnya di sini adalah pada sikap mental dalam menghadapi
era modern di mana arus informasi bisa leluasa bergerak dan tiap orang
bisa mengekspresikan ide-idenya dengan bebas.
Di era keterbukaan
informasi sekarang ini, kita tidak bisa membungkam sepenuhnya semua
bentuk parodi (baca: pelecehan) maupun wacana kritis-dekonstruktif
terhadap agama. Sikap yang paling tepat adalah menghadapi fenomena banjir informasi
tersebut dengan dewasa. Parodi hanyalah kerjaan orang-orang iseng.
Kritik adalah karya intelektual yang seharusnya dibalas dengan jawaban
berilmu. Bukan ditanggapi dengan ancaman, kekerasan, atau sebagainya.
Problem sebenarnya itu bukan pada “penghinaan agama”. Tapi mentalitas
umat Muslim yang oversensitif. Novel “The Da Vinci Code” yang menghina
Katolik itu, bahkan leluasa terbit di Indonesia dan diterbitkan oleh
penerbit Islam “Serambi”. Kalau mau konsisten, mestinya novel
itu bisa jadi kena UU Penodaan agama. Penerbitnya dipidana. Tapi
kenyataannya kan tidak.
Umat yang oversensitif ternyata tidak sensitif
terhadap perilaku saudara seimannya yang menerbitkan sebuah novel yang
pernah diprotes karena dipandang menghina suatu agama.
Umat Muslim itu memerlukan semacam “revolusi mental”. Belajar dari
sejarah, dan belajar dari umat agama lain. Sadarlah, bahwa ini abad 21.
Banyak pandangan dunia yang ditawarkan oleh agama, sudah out of date
dan perlu diperbaharui. Jaman sudah berubah, pemahaman tentang agama
harus disesuaikan. Dan sikap mental menghadapi fenomena perubahan zaman
harus dipersiapkan.

Saya setuju di kata2 " Mental " seperti kata president RI Pak Joko Widod " Revolusi Mental " Menurut saya, pemikiran beliau itu sangat Luas pengertiannya.
BalasHapusIndonesia kalau mau maju " Merubah kearah yg lebih baik Mental cara berfikir, bersikap, bertoleransi antar sesama(manusia) yg berbeda keyakinan dan pendapat. Apabila bila itu tidak bisa dirubah, jangan kita bermimpi Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini bisa Maju.
Jika anda mengatakan bahwa umat muslim oversensitif itu karena kami tahu benar cerita yesus kalian yang kalian anggap sudah mati disalib umat yahudi padhal sebenarnya itu adalah orang yg berkhianat kepada yesus kalian dan rupanya diganti oleh allah swt. Ia itu yudas dan kami tahu benar tentamg muhammad yg merupakan rasul allah swt. sama sepperti yesus kalian yg merupakan rasul allah swt. Dan kami tahu benar bahwa tuhan itu hanya satu allah swt.
BalasHapusBos. Yg dibahas diatas adalah mslh mental oversensitif umat Islam dlm menghadapi kritikan2 terhadap Islam atau Quran. Yg dibahas ini perbandingan kultur dan keadaan sosial di masyarakat Islam dan Barat dlm memandang agama. Ga perlu melebar ke mslh teologi. Lagipula kalau mau bahas ttg penyaliban Yesus, peristiwa penyaliban Yesus itu jg dicatat di sumber2 sejarah sekuler diluar Alkitab & sumber2 sejarah itu (Flavius Josephus, Tacitus, Bar Serapion) dicatat kurang dr 100 thn dari peristiwa penyaliban. Jadi secara keotentikan bukti sejarah penyaliban Yesus itu memang terjadi.
Hapus