Selasa, 18 September 2012

Innocent of Muslim dan Mental Islam

Film “Innocence of Muslims” yang heboh belakangan ini, sebenarnya fenomena yang biasa saja untuk ukuran jaman sekarang. Film amatiran yang tidak terlalu bagus, dan seharusnya tidak perlu membuat heboh. Terlebih film tersebut muncul di barat yang pada dasarnya menjunjung tinggi kebebasan berekspresi.
Beberapa waktu lalu, sempat heboh novel “The Da Vinci Code” karangan Dan Brown, yang dipandang menghina agama Katolik. Novel tersebut menggambarkan Yesus yang menikah dengan Maria Magdalena, dan akhirnya punya anak. Ada kecaman keras dari berbagai institusi Katolik, tapi tidak ada yang sampai mengeluarkan fatwa “bunuh” terhadap penulis novel tersebut. Kehebohan novel tersebut akhirnya pudar begitu saja. Bandingkan dengan kasus novel “The Satanic Verses”-nya Salman Rushdie yang sampai memunculkan fatwa mati terhadap penulisnya.

Dalam masyarakat barat, sudah terlalu sering Yesus, Paus, atau ikon suci lainnya dijadikan parodi. Jika anda browse di Youtube dengan kata kunci “jesus parody”, mudah sekali menemukan berbagai klip video yang bertema olok-olok terhadap Yesus. Apakah ada kegusaran serius di kalangan Kristen? Tidak ada.

Berbeda dengan Kristen, umat Muslim memiliki sikap yang oversensitif terhadap persoalan ini.  Di film “2012” garapan Roland Emmerich, sang sutradara dengan leluasa menggambarkan kehancuran Basilica St. Petrus akibat gempa bumi. Tapi berpikir seribu kali untuk menggambarkan kehancuran bangunan simbol-simbol Islam. Kemudian sebelumnya, sebuah kartun Nabi Muhammad yang pernah ditayangkan di Jylland Posten telah memicu amarah Muslim sedunia.

Oke, sebagian masyarakat barat mampu memaklumi kegusaran umat Muslim. Tapi sebagian yang lain, malah menjadikan karakter sensitif umat Muslim sebagai bahan olok-olok yang membuat mereka makin giat “menggoda”. Aksi “Draw Muhammad’s Day” yang bertujuan memprovokasi umat Muslim pun sempat populer melalui situs jejaring sosial.

Di barat, kekristenan sudah biasa dibedah materinya secara kritis dan dekonstruktif. Alkitab dipandang sebagai semata objek studi yang dikaji dengan jarak. Pro-kontra terhadap pandangan teologi semata-mata menjadi wacana yang dibahas dalam forum diskusi. Tidak ada himbauan kekerasan, blokir internet, bunuh, atau segenap protes berlebihan lainnya. Barat modern sudah relatif maju, tidak seperti kondisi enam ratus tahun yang lalu, ketika institusi gereja mendominasi Eropa.

Dalam masyarakat barat, semua agama bebas dikaji baik secara kritis-dekonstruktif maupun apresiatif. Tidak setuju, silakan lawan pemikiran dengan pemikiran. “Mental ilmiah” seperti ini belum ada di dunia Islam. Umat Muslim hanya terima ketika Islam diapresiasi oleh orang barat. Jika Islam atau Alquran dikritisi, mereka marah. Tapi anehnya, jika kekristenan atau Bible dikritisi, mereka senang. Contoh Maurice Bucaille yang kritis terhadap Bible, membuat umat Muslim di manapun sumringah. Nama dan bukunya kerap kali semangat disebut-sebut. Tapi begitu ada tokoh barat yang kritis terhadap Islam, atau menulis buku yang memaparkan sejarah Islam di luar pemahaman arus utama, sebagai contoh nama Christoph Luxenberg, umat Muslim marah.

Dunia Islam tampaknya belum memasuki era keterbukaan pemikiran semacam itu. Di dunia Islam, yang bisa dan boleh dikritisi hanya agama lain, terutama Kristen. Dan yang wajib diapresiasi hanya agama Islam. Kritik terhadap agama Islam adalah blasphemy. Sedangkan kritik terhadap agama lain, terutama Kristen, adalah dakwah kebenaran.

Jika kita jalan-jalan ke toko buku Gunung Agung, rasanya cukup banyak buku-buku apologetika Islam yang mengkritisi teologi Kristen. Apakah ada kalangan Kristen yang gusar lantas berdemo? Sejauh ini tidak ada. Nah, bagaimana kalau itu terjadi sebaliknya? Misalkan ada buku yang mengkritisi Islam secara frontal dipajang di Gramedia? Wah, pasti sudah rame demonya!

Apakah sikap umat Kristen yang cenderung tidak ambil pusing ketika ikon agamanya dijadikan parodi atau dikritik, berarti tidak menghargai keagungan dan wibawa agamanya? Tidak. Setiap umat beragama pastilah menjunjung tinggi tokoh-tokoh sucinya, menganggap agamanya benar, agung dan wibawa. Masalahnya di sini adalah pada sikap mental dalam menghadapi era modern di mana arus informasi bisa leluasa bergerak dan tiap orang bisa mengekspresikan ide-idenya dengan bebas. 

Di era keterbukaan informasi sekarang ini, kita tidak bisa membungkam sepenuhnya semua bentuk parodi (baca: pelecehan) maupun wacana kritis-dekonstruktif terhadap agama. Sikap yang paling tepat adalah menghadapi fenomena banjir informasi tersebut dengan dewasa. Parodi hanyalah kerjaan orang-orang iseng. Kritik adalah karya intelektual yang seharusnya dibalas dengan jawaban berilmu. Bukan ditanggapi dengan ancaman, kekerasan, atau sebagainya.

Problem sebenarnya itu bukan pada “penghinaan agama”. Tapi mentalitas umat Muslim yang oversensitif. Novel “The Da Vinci Code” yang menghina Katolik itu, bahkan leluasa terbit di Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Islam “Serambi”. Kalau mau konsisten, mestinya novel itu bisa jadi kena UU Penodaan agama. Penerbitnya dipidana. Tapi kenyataannya kan tidak. 

Umat yang oversensitif ternyata tidak sensitif terhadap perilaku saudara seimannya yang menerbitkan sebuah novel yang pernah diprotes karena dipandang menghina suatu agama.
Umat Muslim itu memerlukan semacam “revolusi mental”. Belajar dari sejarah, dan belajar dari umat agama lain. Sadarlah, bahwa ini abad 21. Banyak pandangan dunia yang ditawarkan oleh agama, sudah out of date dan perlu diperbaharui. Jaman sudah berubah, pemahaman tentang agama harus disesuaikan. Dan sikap mental menghadapi fenomena perubahan zaman harus dipersiapkan.

3 komentar:

  1. Saya setuju di kata2 " Mental " seperti kata president RI Pak Joko Widod " Revolusi Mental " Menurut saya, pemikiran beliau itu sangat Luas pengertiannya.
    Indonesia kalau mau maju " Merubah kearah yg lebih baik Mental cara berfikir, bersikap, bertoleransi antar sesama(manusia) yg berbeda keyakinan dan pendapat. Apabila bila itu tidak bisa dirubah, jangan kita bermimpi Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini bisa Maju.

    BalasHapus
  2. Jika anda mengatakan bahwa umat muslim oversensitif itu karena kami tahu benar cerita yesus kalian yang kalian anggap sudah mati disalib umat yahudi padhal sebenarnya itu adalah orang yg berkhianat kepada yesus kalian dan rupanya diganti oleh allah swt. Ia itu yudas dan kami tahu benar tentamg muhammad yg merupakan rasul allah swt. sama sepperti yesus kalian yg merupakan rasul allah swt. Dan kami tahu benar bahwa tuhan itu hanya satu allah swt.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bos. Yg dibahas diatas adalah mslh mental oversensitif umat Islam dlm menghadapi kritikan2 terhadap Islam atau Quran. Yg dibahas ini perbandingan kultur dan keadaan sosial di masyarakat Islam dan Barat dlm memandang agama. Ga perlu melebar ke mslh teologi. Lagipula kalau mau bahas ttg penyaliban Yesus, peristiwa penyaliban Yesus itu jg dicatat di sumber2 sejarah sekuler diluar Alkitab & sumber2 sejarah itu (Flavius Josephus, Tacitus, Bar Serapion) dicatat kurang dr 100 thn dari peristiwa penyaliban. Jadi secara keotentikan bukti sejarah penyaliban Yesus itu memang terjadi.

      Hapus

Berikan sepatah komentar, tanda kasih anda.